CILEGON – Setiap peringatan Maulid Nabi, beberapa daerah di Banten biasanya menggelar tradisi panjang mulud untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW yang memang tak lepas dari sejarah Kesultanan Banten.
Tradisi Panjang Mulud di Provinsi Banten biasanya diselenggarakan di 5 kab/kota, yaitu Kota Serang, Kabupaten Serang, Cilegon, Pandeglang dan Lebak. Pola penyelenggaraan secara umum memiliki persamaan, sedangkan yang membedakan hanya terletak pada kekhasan daerah, salah satunya adalah lantunan dzikir mulud dan atau shalawat yang berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya.
Dzikir Maulid memiliki tujuan utama untuk menumbuhkan rasa cinta yang mendalam kepada Nabi Muhammad SAW. Dengan mengenang dan meneladani perjalanan hidupnya, umat Islam diharapkan dapat memperkuat iman dan ketaqwaan kepada Allah SWT.
Selain itu, tradisi ini juga menjadi sarana untuk mempererat tali silaturahmi antarwarga. Acara yang sering kali diselenggarakan dengan jamuan makan bersama (kenduri) menjadi momen kebersamaan yang sangat berharga bagi masyarakat.
Masyarakat Banten menyebut definisi dari panjang adalah tempat untuk menyimpan telur dan berkatnya. Sementara mulud adalah nama bulan yang disandarkan kepada bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Pawai “Panjang” dan Maknanya
Inti dari tradisi ini adalah arak-arakan “panjang,” yaitu replika atau miniatur yang dihias dengan aneka makanan dan hasil bumi. Replika ini dibentuk menjadi berbagai wujud, mulai dari masjid, perahu, unta, hingga pesawat terbang, yang melambangkan kreativitas dan semangat gotong royong warga.
Kata “panjang” sendiri memiliki beberapa tafsiran. Ada yang mengartikannya sebagai “memajang” atau “mempertontonkan” benda-benda yang dihias. Ada pula yang merujuk pada arak-arakan yang memanjang. Terlepas dari maknanya, tradisi ini dianggap sebagai hari raya ketiga bagi masyarakat Banten, setelah Idul Fitri dan Idul Adha.
Ritual dan Berkah yang Dibagi
Arak-arakan ini tidak hanya untuk memeriahkan, tetapi juga menyebarkan keberkahan. Setelah diarak keliling kampung dengan iringan musik tradisional seperti Terbang Gede, seluruh “panjang” akan dikumpulkan di masjid atau mushola.
Puncaknya adalah ritual “ngeropok,” di mana isi dari “panjang” tersebut, yang berisi sedekah dari warga berupa sembako, telur, dan aneka jajanan, dibagikan secara adil kepada seluruh peserta yang hadir. Ritual ini merefleksikan nilai-nilai kebersamaan dan berbagi rezeki.
Dengan perpaduan nilai religius dan budaya yang kental, Panjang Mulud tidak hanya menjadi sarana merayakan hari kelahiran Nabi, tetapi juga menjaga silaturahmi, memupuk semangat gotong royong, dan melestarikan warisan budaya Nusantara yang tak ternilai harganya.











